Katulampa Siaga 3, Pramono Buka Pintu Air Ciliwung: Dorong Debit ke Laut, DPRD Minta Pengerukan Tak Musiman

INDOPOS.ONLINE — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan seluruh jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bergerak cepat menyikapi kenaikan debit Sungai Ciliwung yang kembali memicu banjir di sejumlah wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Kenaikan muka air diketahui berasal dari Bendung Katulampa, Bogor, yang telah berstatus Siaga 3 sejak sekitar 15 jam sebelumnya. Pramono menegaskan, Jakarta sudah bersiap sejak informasi kiriman air diterima.

“Karena Katulampa dari kemarin sudah Siaga 3, maka kami di Jakarta tentu tidak tinggal diam. Semua sudah disiapkan,” ujar Pramono kepada wartawan, Sabtu (31/1/2026).

Sebagai langkah teknis, Pemprov DKI membuka sejumlah pintu air di sepanjang aliran Ciliwung. Kebijakan ini membuat beberapa kawasan yang selama ini relatif aman dari aliran limpasan akhirnya ikut dialiri, dengan tujuan menurunkan tekanan debit sungai.

“Di Manggarai juga sudah naik. Jadi mau tidak mau, daerah-daerah yang biasanya tidak dialiri harus dibuka supaya air bisa segera menuju laut,” kata Pramono.

Namun, upaya mempercepat aliran ke laut tidak berjalan sepenuhnya mulus. Pramono menjelaskan, tingginya permukaan air laut membuat air dari hulu tidak dapat langsung dilepas sekaligus. Karena itu, pengaliran dilakukan bertahap sejak pagi hari dengan memastikan fungsi pintu-pintu air berjalan optimal.

“Air dari Katulampa mulai masuk sejak pukul 09.10 WIB. Sekarang pelan-pelan kita dorong ke laut, sambil memastikan seluruh pintu air berfungsi,” ujarnya.

Dari sisi legislatif, Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin mengingatkan Pemprov agar respons tidak hanya kuat saat permukaan air sudah telanjur naik. Ia mendorong pengerukan sungai dan saluran air dilakukan rutin sepanjang tahun, bukan sekadar kegiatan musiman menjelang musim hujan.

“Sedimentasi lumpur terus terjadi di sedikitnya 13 aliran sungai di Jakarta. Tanpa pengerukan berkelanjutan, kapasitas sungai akan terus menyusut,” kata dia.

“Endapan lumpur itu tidak mengenal musim. Jadi pengerukan juga jangan musiman,” tambahnya.

Politisi PKS itu menekankan kedalaman sungai idealnya dijaga hingga lima meter agar daya tampung tetap optimal. Ia juga menyoroti sekitar 500 titik saluran penghubung yang dinilai membutuhkan perawatan serupa.

“Saluran penghubung juga harus dikeruk rutin. Jangan tunggu banjir dulu,” ujarnya.

Khoirudin menilai perawatan sungai yang konsisten menjadi kunci untuk menekan dampak banjir, baik yang dipicu kiriman air dari hulu, hujan lokal, maupun limpasan air laut.

“Kalau dirawat terus, dampaknya ke warga bisa diminimalisir,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version