Anak Disabilitas Surabaya Berkarya Lewat Batik

INDOPOS.ONLINE – Semangat anak-anak penyandang disabilitas dalam menghasilkan karya seni kembali menjadi sorotan. Melalui keterampilan membatik, sejumlah anak dari Rumah Anak Prestasi menunjukkan bahwa keterbatasan fisik maupun intelektual bukan menjadi penghalang untuk berkarya dan tampil percaya diri di hadapan publik.

Aksi membatik tersebut ditampilkan dalam sebuah pameran di Surabaya. Anak-anak dengan hambatan rungu, grahita, dan daksa memperlihatkan kemampuan mereka mengolah kain bermotif indah melalui teknik membatik yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta kreativitas.

Kehadiran mereka merupakan bagian dari ruang inklusif yang dihadirkan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bekerja sama dengan UMKM Zaliva. Program ini menjadi wadah bagi anak-anak disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperkenalkan hasil karya mereka kepada masyarakat luas.

Sebanyak lima remaja istimewa tampil percaya diri dalam peragaan membatik. Mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan teknis, tetapi juga berinteraksi langsung dengan pengunjung pameran. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa karya anak disabilitas memiliki nilai seni dan layak mendapat apresiasi.

Pemilik UMKM Zaliva, Zakiyah Fitri, mengatakan saat ini terdapat sekitar 30 anak disabilitas yang aktif mengasah keterampilan motorik dan kreativitas melalui kegiatan membatik dan kerajinan tangan.

Menurut Zakiyah, proses pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan tangan, tetapi juga diarahkan untuk membangun kemandirian mental anak-anak agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.

“Anak-anak disabilitas memiliki semangat belajar yang luar biasa. Dengan dukungan ruang yang diberikan, mereka tidak hanya berkarya tetapi juga merasakan langsung hangatnya apresiasi dari masyarakat luas,” ujar Zakiyah Fitri.

Sekretaris Perusahaan PGN, Fajriyah Usman, menegaskan bahwa perusahaan meyakini setiap anak memiliki potensi yang setara. Melalui pelatihan membatik dan pembuatan kerajinan tangan secara berkelanjutan, anak-anak disabilitas didorong untuk memiliki bekal keterampilan yang dapat menopang ekonomi mereka di masa depan.

“Kami ingin mereka berani tampil dan merasakan bahwa karya yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi. Ini adalah perjalanan untuk membangun rasa percaya diri mereka agar lebih mandiri,” tutur Fajriyah Usman.

Kegiatan yang berlangsung sepanjang pekan tersebut memberikan pesan kuat tentang pentingnya ruang inklusif bagi penyandang disabilitas. Ketekunan anak-anak dalam menggoreskan malam di atas kain menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan hambatan untuk berdaya, melainkan dorongan untuk terus menghadirkan kesempatan yang setara bagi semua.

Exit mobile version