banner 728x250
Berita  

AWD Hemat Air 20 Persen Hadapi El Nino

banner 120x600
banner 468x60

INDOPOS.ONLINE – Kementerian Pertanian menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) sebagai strategi efisiensi air irigasi hingga 20 persen dalam menghadapi ancaman fenomena El Nino ekstrem atau “Godzilla El Nino” yang berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa metode AWD terbukti mampu menekan penggunaan air irigasi tanpa mengurangi produktivitas padi. “Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi. Upaya efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Minggu.

banner 325x300

Ia menegaskan bahwa teknologi tersebut merupakan bagian dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada optimalisasi penggunaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui metode AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.

Lebih lanjut, Mentan menekankan bahwa pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. “Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry, menjelaskan bahwa metode AWD merupakan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan riil di lapangan, khususnya saat musim kemarau. Teknologi ini dinilai sebagai solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sistem penggenangan terus-menerus.

“Sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ujar Fadjry.

Ia menambahkan, AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak 2013 oleh Kementerian Pertanian. Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, teknik ini terbukti mampu menekan kelangkaan air di lahan sawah, bahkan berpotensi menghindarinya. “Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17–20 persen,” ujarnya.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa penerapan AWD mampu menekan penggunaan air secara signifikan tanpa menurunkan produktivitas padi. Dalam kondisi tertentu, efisiensi tersebut bahkan membuka peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lain.

Selain itu, metode ini memberikan dampak positif terhadap lingkungan, antara lain melalui perbaikan kondisi tanah serta penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.

Analis dari BRMP Lingkungan Pertanian Kementan, Ali Pramono, menjelaskan bahwa penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan tingkat kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang. “Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum diairi kembali,” jelasnya.

Pemantauan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10–15 cm dengan panjang 30–100 cm yang dilubangi di seluruh sisi, dibungkus kain kassa, dan dibenamkan hingga menyisakan 10–20 cm di atas permukaan tanah. Alat ini bekerja dengan prinsip sederhana menyerupai piezometer.

Pipa ditempatkan di area yang mudah diakses, dekat pematang, untuk memudahkan pemantauan kedalaman air yang merepresentasikan kondisi rata-rata lahan. Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa turun hingga kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali secara terbatas hingga mencapai tinggi 3–5 cm guna menjaga kelembapan tanah.

Siklus ini dilakukan secara berulang dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan dan cuaca, serta tetap menjaga ketersediaan air pada fase-fase kritis seperti pemupukan, penyiangan, hingga fase bunting dan berbunga.

Menurut Ali, penerapan AWD tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah, sehingga tanaman menjadi lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil panen. “AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa AWD merupakan bagian dari pendekatan climate smart agriculture yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan, sekaligus menjaga produktivitas padi di tengah keterbatasan air pada musim kemarau.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *